Kewajiban Menaati Pemerintah kewajiban taat pada pemerintah
Kewajiban Menaati Pemerintah
Di antara pokok-pokok akidah ahlissunnah adalah mendengar & taat kepada pemerintah muslim pada perkara-perkara yang bukan maksiat. Allah Ta’ala berfirman:
يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah & taatilah Rasul (Nya), & ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa`: 59)
Ulil amri yang dimaksud dlm ayat adalah pemerintah berdasarkan pendapat yang paling kuat di kalangan ulama. Hal ini juga ditunjukkan dlm hadits-hadits yang shahih, di antaranya:
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ يَعْصِنِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي
“Barang siapa mentaatiku sungguh dia telah mentaati Allah, & barangsiapa bermaksiat kepadaku maka dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa metaati seorang pemimpin sungguh dia telah mentaatiku, & siapa saja bermaksiat kepada seorang pemimpin maka dia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. Al-Bukhari no. 2737 & Muslim no. 3417)
Dari Nafi’ bin Umar radhiallahu anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa melepas tangannya dari ketaatan, maka ia akan menemui Allah di hari Kiamat dlm keadaan tak memiliki hujjah, danbarang siapa mati dlm keadaan tak berbaiat, maka ia mati seperti mati jahiliyyah.” (HR. Muslim no. 3441)
Yakni berbaiat kepada penguasa jika mereka memintanya. Karenanya baiat kepada selain pemerintah merupakan tindakan keluar dari ketaatan kepada mereka.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa keluar dari ketaatan & tak mau bergabung dgn jama’ah kemudian ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 3436)
Yang dimaksud dgn jamaah di sini adalah jamaah kaum muslimin yang dipimpin oleh seorang pemimpin negara yang syah.
Sementara makna ‘mati jahiliah’ adalah mati seperti keadaan orang jahiliah yang mereka ini tak mau tunduk kepada seorang penguasa. Jadi kalimat ini bukanlah pengkafiran kepada pelakunya.
Maka semua dalil di atas memerintahkan setiap muslim & muslimat utk taat kepada pemerintahnya & diharamkan atas mereka utk tak taat kepadanya.
يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah & taatilah Rasul (Nya), & ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa`: 59)
Ulil amri yang dimaksud dlm ayat adalah pemerintah berdasarkan pendapat yang paling kuat di kalangan ulama. Hal ini juga ditunjukkan dlm hadits-hadits yang shahih, di antaranya:
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ يَعْصِنِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي
“Barang siapa mentaatiku sungguh dia telah mentaati Allah, & barangsiapa bermaksiat kepadaku maka dia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa metaati seorang pemimpin sungguh dia telah mentaatiku, & siapa saja bermaksiat kepada seorang pemimpin maka dia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. Al-Bukhari no. 2737 & Muslim no. 3417)
Dari Nafi’ bin Umar radhiallahu anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa melepas tangannya dari ketaatan, maka ia akan menemui Allah di hari Kiamat dlm keadaan tak memiliki hujjah, danbarang siapa mati dlm keadaan tak berbaiat, maka ia mati seperti mati jahiliyyah.” (HR. Muslim no. 3441)
Yakni berbaiat kepada penguasa jika mereka memintanya. Karenanya baiat kepada selain pemerintah merupakan tindakan keluar dari ketaatan kepada mereka.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Barangsiapa keluar dari ketaatan & tak mau bergabung dgn jama’ah kemudian ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 3436)
Yang dimaksud dgn jamaah di sini adalah jamaah kaum muslimin yang dipimpin oleh seorang pemimpin negara yang syah.
Sementara makna ‘mati jahiliah’ adalah mati seperti keadaan orang jahiliah yang mereka ini tak mau tunduk kepada seorang penguasa. Jadi kalimat ini bukanlah pengkafiran kepada pelakunya.
Maka semua dalil di atas memerintahkan setiap muslim & muslimat utk taat kepada pemerintahnya & diharamkan atas mereka utk tak taat kepadanya.
Bahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam tetap memerintahkan utk mendengar & taat kepada pemerintah walaupun pemerintah itu berlaku zhalim kepada rakyatnya.
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ
“Sungguh akan terjadi sifat-sifat egoisme & perkara lain yang kalian ingkari (dari pemerintah)”. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang baginda perintahkan utk kami (bila zaman itu kami alami)?” Beliau menjawab: “Kalian tunaikan hak-hak (pemerintah) yang menjadi kewajiban kalian & kalian minta kepada Allah apa yang menjadi hak kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 3335 & Muslim no. 3430)
Hadits di atas menjelaskan bahwa kewajiban kita taat kepada penguasa bukan semata-mata karena penguasa berbuat baik & melindungi kita, akan tetapi juga karena itu adalah perintah Allah & sudah menjadi hak mereka. Karenanya walaupun mereka tak memenuhi kewajiban mereka melindungi & berbuat baik kepada rakyat & mereka menzhalimi hak rakyatnya, maka itu bukan menjadi alasan kita juga tak memenuhi kewajiban kita kepada Allah, karena kedua masalah ini berbeda.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Siapapun yang melihat sesuatu dari pemimpinnya yang tak disukainya, hendaklah ia bersabar terhadapnya, sebab siapa yang memisahkan diri sejengkal dari jama’ah lalu dia mati, kecuali dia mati seperti mati jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari no. 6531 & Muslim no. 3438)
Hikmah dari bersabar dari kezhaliman pemerintah di antaranya:
1. Menghapuskan dosa-dosa. Karena setiap musibah & kezhaliman yang menimpa seorang muslim adalah penggugur dosa baginya.
2. Menambah pahala & keutamaan. Karena kesabaran adalah hal yang wajib atas setiap takdir yang menyakitkan, & seseorang akan diganjar pahala dengannya.
3. Mencegah terjadinya mafsadat & kerusakan yang lebih besar serta menjaga dari tertumpahnya darah kaum muslimin. Jika seorang tak bersabar lalu mencoba utk ‘mengganggu’ penguasanya karenanya, maka yang timbul hanyalah pertumpahan darah sesama kaum muslimin.
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ
“Sungguh akan terjadi sifat-sifat egoisme & perkara lain yang kalian ingkari (dari pemerintah)”. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang baginda perintahkan utk kami (bila zaman itu kami alami)?” Beliau menjawab: “Kalian tunaikan hak-hak (pemerintah) yang menjadi kewajiban kalian & kalian minta kepada Allah apa yang menjadi hak kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 3335 & Muslim no. 3430)
Hadits di atas menjelaskan bahwa kewajiban kita taat kepada penguasa bukan semata-mata karena penguasa berbuat baik & melindungi kita, akan tetapi juga karena itu adalah perintah Allah & sudah menjadi hak mereka. Karenanya walaupun mereka tak memenuhi kewajiban mereka melindungi & berbuat baik kepada rakyat & mereka menzhalimi hak rakyatnya, maka itu bukan menjadi alasan kita juga tak memenuhi kewajiban kita kepada Allah, karena kedua masalah ini berbeda.
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Siapapun yang melihat sesuatu dari pemimpinnya yang tak disukainya, hendaklah ia bersabar terhadapnya, sebab siapa yang memisahkan diri sejengkal dari jama’ah lalu dia mati, kecuali dia mati seperti mati jahiliyah.” (HR. Al-Bukhari no. 6531 & Muslim no. 3438)
Hikmah dari bersabar dari kezhaliman pemerintah di antaranya:
1. Menghapuskan dosa-dosa. Karena setiap musibah & kezhaliman yang menimpa seorang muslim adalah penggugur dosa baginya.
2. Menambah pahala & keutamaan. Karena kesabaran adalah hal yang wajib atas setiap takdir yang menyakitkan, & seseorang akan diganjar pahala dengannya.
3. Mencegah terjadinya mafsadat & kerusakan yang lebih besar serta menjaga dari tertumpahnya darah kaum muslimin. Jika seorang tak bersabar lalu mencoba utk ‘mengganggu’ penguasanya karenanya, maka yang timbul hanyalah pertumpahan darah sesama kaum muslimin.
Kemudian, walaupun kita diperintahkan utk menaati pemerintah, akan tetapi pemerintah itu adalah manusia biasa yang bisa berbuat benar & bisa juga berbuat salah. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam telah membatasi ketaatan kepada mereka hanya dlm perkara kebaikan & bukan dlm perkara maksiat. Dari Ali radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Sama sekali tak ada ketaatan dlm kemaksiatan, ketaatan itu hanya dlm perkara kebaikan.” (HR. Al-Bukhari no. 6716 & Muslim no. 3424)
Dari Ali radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dlm bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla.” (HR. Ahmad no. 1041)
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Sama sekali tak ada ketaatan dlm kemaksiatan, ketaatan itu hanya dlm perkara kebaikan.” (HR. Al-Bukhari no. 6716 & Muslim no. 3424)
Dari Ali radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dlm bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla.” (HR. Ahmad no. 1041)
Kemudian, dgn menaati & mendengar kepada penguasa maka akan terwujud berbagai maslahat yang tak terhingga. Akan terwujud keistiqamahan dlm agama, ketenangan dlm beribadah, & teraturnya setiap urusan keduniaan manusia. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Mereka (pemerintah) mengatur 5 perkara dari urusan kita: Shalat jumat, shalat jamaah, shalat id, jihad, & penegakan hukum had. Demi Allah, agama tak akan tegak kecuali dgn bantuan mereka walaupun mereka jahat atau zhalim. Demi Allah, apa yang Allah perbaiki dgn perantaraan mereka (pemerintah) itu lebih banyak dibandingkan kerusakan (kezhaliman) yang mereka perbuat.”
Sebagian ulama pernah berkata, “60 tahun bersama pemerintah yang zhalim itu lebih baik daripada 1 malam tanpa pemerintah.”
Ini tentunya adalah hal yang jelas. Karena dgn adanya pemerintah maka kezhaliman & kekacauan di dlm masyarakat bisa dicegah & terkendali. Bayangkan saja jika 1 malam tak ada yang berkuasa & tak ada aturan, dikatakan kepada setiap orang: Silakan berbuat sesuka kalian mala mini karena tak ada hukuman yang dijatuhkan atas kalian. Tidak bisa dibayangkan bagaimana besarnya kerusakan yang akan terjadi, berapa banyak nyawa yang akan melayang, berapa banyak kehormatan yang akan dilanggar, berapa banyak harta yang akan dirampas, & berapa banyak bangunan yang akan hancur. Na’udzu billahi min dzalik.
Imam Abdullah bin Al-Mubarak pernah berkata dlm 3 bait syair:
“Sesungguhnya khilafah adalah tali Allah maka berpegang teguhlah dengannya, siapapun khalifahnya.
Betapa banyak kejelekan yang Allah cegah menimpa agama kita dgn perantaraan pemerintah, hal itu sebagai rahmat dari-Nya terhadap kehidupan keduniaan kita.
Seandainya bukan karena adanya khilafah, niscaya jalan-jalan tak akan ada yang aman, & niscaya orang-orang lemah di antara kita akan menjadi mangsa bagi orang-orang kuat di antara kita.”
Imam Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali Al-Barbahari berkata dlm Syarh As-Sunnah, “Siapa saja yang keluar dari ketaatan kepada seorang penguasa muslim maka dia adalah seorang khawarij, dia telah memecahkan tongkat persatuan kaum muslimin, dia telah menyelisihi sunnah, & matinya seperti mati orang jahiliah.
Tidak halal mengkudeta pemerintah & keluar dari ketaatan kepada mereka, walaupun mereka berbuat zhalim. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Bersabarlah walaupun pemerintahnya adalah budak dari Habasyah.” Dan juga sabda beliau kepada para sahabat Anshar, “Bersabarlah kalian sampai kalian bertemu denganku di telaga.”
Tidak ada di dlm sunnah (Nabi) mengkudeta pemerintah, karena perbuatan itu akan menimbulkan kerusakan agama & dunia.”
sumber: http://www.al-ikhwan.com - www.al-atsariyyah.com tags: Taat Kepada Pemerintah, Abu Hurairah,
Sebagian ulama pernah berkata, “60 tahun bersama pemerintah yang zhalim itu lebih baik daripada 1 malam tanpa pemerintah.”
Ini tentunya adalah hal yang jelas. Karena dgn adanya pemerintah maka kezhaliman & kekacauan di dlm masyarakat bisa dicegah & terkendali. Bayangkan saja jika 1 malam tak ada yang berkuasa & tak ada aturan, dikatakan kepada setiap orang: Silakan berbuat sesuka kalian mala mini karena tak ada hukuman yang dijatuhkan atas kalian. Tidak bisa dibayangkan bagaimana besarnya kerusakan yang akan terjadi, berapa banyak nyawa yang akan melayang, berapa banyak kehormatan yang akan dilanggar, berapa banyak harta yang akan dirampas, & berapa banyak bangunan yang akan hancur. Na’udzu billahi min dzalik.
Imam Abdullah bin Al-Mubarak pernah berkata dlm 3 bait syair:
“Sesungguhnya khilafah adalah tali Allah maka berpegang teguhlah dengannya, siapapun khalifahnya.
Betapa banyak kejelekan yang Allah cegah menimpa agama kita dgn perantaraan pemerintah, hal itu sebagai rahmat dari-Nya terhadap kehidupan keduniaan kita.
Seandainya bukan karena adanya khilafah, niscaya jalan-jalan tak akan ada yang aman, & niscaya orang-orang lemah di antara kita akan menjadi mangsa bagi orang-orang kuat di antara kita.”
Imam Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali Al-Barbahari berkata dlm Syarh As-Sunnah, “Siapa saja yang keluar dari ketaatan kepada seorang penguasa muslim maka dia adalah seorang khawarij, dia telah memecahkan tongkat persatuan kaum muslimin, dia telah menyelisihi sunnah, & matinya seperti mati orang jahiliah.
Tidak halal mengkudeta pemerintah & keluar dari ketaatan kepada mereka, walaupun mereka berbuat zhalim. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Bersabarlah walaupun pemerintahnya adalah budak dari Habasyah.” Dan juga sabda beliau kepada para sahabat Anshar, “Bersabarlah kalian sampai kalian bertemu denganku di telaga.”
Tidak ada di dlm sunnah (Nabi) mengkudeta pemerintah, karena perbuatan itu akan menimbulkan kerusakan agama & dunia.”
sumber: http://www.al-ikhwan.com - www.al-atsariyyah.com tags: Taat Kepada Pemerintah, Abu Hurairah,